Kalian itu Bagaimana atau Kami yang Harus Bagaimana?

Hai temen-temen pembaca Blog Cinta ala Santri?

Saya Rizky, tentu temen-temen tau kalau Blog ini adalah blog keluarga yang dikelola oleh istri saya, Berlian.

Di blog ini saya hanya "guest blogger" alias tamu.

Yaa.. wajarlah, itu adalah salah satu teknik SEO supaya bisa dapet back link ke Blog Otoritas saya, Jagoan Adsense. Dengan begitu traffic saya meningkat 😀

Oke, lupakan sejenak tentang teknik blogging.

Disini kita akan berbicara tentang keluarga, tentunya keluarga saya.

Beberapa waktu lalu, istri saya kembali meminta kepada saya untuk memberi respon terhadap status-status yang dilontarkan oleh seseorang atas apa yang telah terjadi di antara kita.

Tentu ini bukan yang pertama kalinya, namun saya selalu bilang begini kepada istri saya, "Biar saja, kita nda perlu membalas mereka dengan hal yang sama. Cukup kita berusaha dan membuktikan kepada mereka suatu saat nanti bahwa mereka tidak tepat menilai kita begitu".

Kata-kata itu selalu saya ulang setiap kali istri saya merasa tersinggung dan memberi tau saya tentang status-status yang menurut saya tidak seharusnya status-status itu ada di media sosial.

Bukan kami tidak berani atau tidak bisa membalasnya, kami bisa, sangat amat bisa sekali. Tapi kami memilih untuk diam dan mendo'akan. Selain itu, justru kalau kami langsung memberikan komentar di setiap statusnya, itu malah hanya akan membuat kami emosi, marah dan ngomong semaunya.

Tapi karena kemarin (menurut saya) sudah keterlaluan, maka postingan ini adalah bentuk respon terbaik kami atas semua sindirian-sindiran ataupun tuduhan yang diberikan kepada kami.

  • Peringatan : Tulisan ini saya buat bukan untuk mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Kami hanya ingin menunjukan apa yang terjadi. Silahkan pembaca menilainya sendiri. Ini juga bagi kami bukan sebuah aib, tapi ini adalah gelombang-gelombang yang hadir menghampiri bahtera rumah tangga kami, yang dengannya kami bisa lebih bijaksana dalam menyikapi kehidupan berumah tangga.

Jadi temen-temen jangan main hakim ya 😉. Soalnya cerita ini, sangat sensitif sekali.

Mari kita mulai dari sebuah puisi yang beberapa waktu lalu saya posting di Facebook.

Selamat membaca 😊

Kalian Ini Bagaimana, Atau Kami Harus Bagaimana?

Kamu ini bagaimana?
Kamu suruh aku menikahi adikmu
Aku menikah dengannya, kamu marah
Bilang kami tidak pernah memikirkan perasaanmu
Padahal kamu punya banyak waktu untuk menikah jika memang kamu mau

Aku harus bagaimana?
Kamu bilang, adikmu selalu menyusahkan orang tuamu
Kamu umbar keburukannya di media sosialmu
Katamu Nikahi saja, Biar kamu yang membahagiakan Papah-Mamahmu
Aku bawa adikmu, kamu bilang aku menjauhkannya dari orang tuamu

Kalian ini bagaimana?
Kami tidak meminta, kalian beri
Kami terima, kalian malah mengungkitnya dan memerkannya dimana-mana
Apakah itu yang kalian sebut keikhlasan dan kasih sayang?

Kami harus bagaimana?
Kami beri saran kemudahan, kalian menolaknya
Kalian mendapat kesusahan, kami yang disalahkan
Seolah kami tak mau ikut memikirkan

Kalian ini bagaimana?
Kami berbakti, kalian menyakiti
Kami pergi, kalian bilang kami tak punya hati
Apakah harta yang membedakan orang punya dan tidak punya hati?

Kami harus bagaimana?
Kalian koar-koarkan kesalahan kami
Kami jelaskan kepada mereka, kalian bilang kami berkata yang tidak-tidak
Apakah kebenaran hanya milik kalian saja?

Kalian ini bagaimana?
Kalian injak-injak harga diri kami
Kalian permalukan, seolah kami adalah manusia terhina dimuka bumi
Seandainya kami tega dan tak punya budi pekerti
Sudah barang tentu kami beberkan semua kebobrokan yang terjadi selama ini

Kami harus bagaimana?
Kalian bilang kalian sayang pada si kecil
Bilang rindu tapi tak mau datang bertemu seolah dalam penjara batu
Seandainya sudah bukan bocah posyandu
Mungkin kami tega membawanya beradu dengan debu

Kalian ini bagaimana, atau kami harus bagaimana???

- Kamar Cinta, 15 April 2018 -

Saya akan ceritakan satu-persatu kisah (kejadian nyata) dibalik bait-bait puisi diatas.

*****
Saya awali dari cerita perkenalan antara saya dengan Berlian (teman satu alumni dari Pondok Pesantren Al-Kamal) waktu itu.

Sejujurnya kami belum begitu saling mengenal satu sama lain, bahkan meskipun pernah satu Pondok, kami jarang sekali bertemu. (maklum, dipondok cowok-cewek itu dipisah kamarnya 😀).

Takdir pun terus berjalan, hingga akhirnya setelah setahun kami lulus dan melanjutkan kuliah di tempat yang berbeda (saya di Jogja, sedangkan Berlian di Majenang, Cilacap), pada akhir tahun 2016, tepatnya bulan September, saya memutuskan untuk datang ke Majenang, saat moment ulang tahun Berlian, teman saya (waktu itu).

Foto Saya dan Berlian saat pertama kali bertemu.
Foto Pertama Saya dan Berlian

Tak perlu saya ceritakan semua yang terjadi pada saat itu. Tapi yang perlu temen-temen ingat adalah Itikad baik saya, dengan menemui orang tuanya di rumahnya (untuk pemuda usia 19 tahun, itu adalah suatu keberanian) bukan dengan jalan berduaan sambil bergandeng tangan (baca: pacaran).

Setelah saya memperkenalkan diri saya, yang tidak lain hanya seorang mahasiswa dengan beberapa aktifitas kemasyarakatan di Jogja, dan ngobrol beberapa saat dengan Papah-Mamah Berlian. Waktu itu saya sadar betul bahawa beliau sudah tidak lagi muda. Sedangkan saat saya ngobrol dengan Berlian, saya melihat ada sesuatu yang istimewa dari dirinya yang membuat hati saya berkata, "saya tidak main-main soal ini".

Akhirnya di bulan berikutnya (Oktober 2016) saya kembali datang ke rumah Berlian untuk silaturrahim.

Melihat saya dua kali datang ke rumah, Papah-Mamah Berlian memikirkan sesuatu yang sama dengan apa yang hati saya rasakan, ingin menjalin hubungan yang serius dengan putrinya, Berlian.

Sehingga beliau berpesan kepada saya untuk mengejar cita-cita dulu baru mengejar cinta. Saya pun sendiko dawuh saat itu.

Hingga pada bulan November 2016, (saat itu saya sedang menjadi pembicara di sebuah acara training motivasi di Kebumen) saya mendapat kabar dari mba-nya bahwa Berlian semalam tidak tidur dirumah. Dan dia bertanya kepada saya soal keberadaan adiknya itu (Berlian).

Ini beberapa screenshoot percakapan saya dengan mba-nya waktu itu.















Dari kejadian itulah, kemudian niat saya menjadi bulat untuk melamar Berlian, silahkan temen-temen baca cerita saat kami khitbah (lamaran), karena jika saya ceritakan disini menjadi terlalu panjang ceritanya.

Sejujurnya, saya belum ada rencana melamar secepat itu karena mengingat saya pun masih kuliah dan masih banyak hal lain yang harus saya lakukan.

Tapi melihat kondisi Berlian yang (menurut saya) tidak baik karena tertekan, serta orang tuanya yang sudah sepuh, saya pun akhirnya musyawarah dengan keluarga saya tentang lamaran tersebut.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya mendapat restu dari orang tua dan saudara saya, termasuk 1 kakak perempuan saya yang belum menikah.

Singkat cerita, akhirnya pada bulan Desember 2016 saya beserta keluarga dan kepala sekolah kami yang tidak lain adalah Gus (Putra dari Kyai Pondok Pesantren Al-Kamal) Dr. Azam Syukur Rahmatullah berkunjung ke rumah Berlian dengan maksud melamar.

Alhamdulillah, lamaran kami pun diterima.

Bulan berikutnya (Januari 2017) akhirnya saya resmi menikahi Berlian. Ini cerita lengkapnya.

Sungguh peristiwa yang sangat sakral selama kami hidup hingga saat ini. Tentu ada banyak pihak yang juga ikut andil sehingga pernikahan yang sederhana ini bisa terselenggarakan. Diantarnya kakak perempuan saya yang belum menikah, Dyah Sherly. Beliau siap membantu apapun, termasuk memberi sumbangan dana (baca : kondangan) sebesar 5 juta sebelum pernikahan kami.

Begitu pula dengan mba-nya Berlian, meskipun saya tidak tau betul, tapi Mamahnya bilang begitu kepada saya.

bersambung....
Advertisement

Click to comment