Mindset: Agama itu Mudah

"Sesungguhnya aku diutus dengan agama yang lurus dan lapang." [HR. Muslim]
"Agama ini mudah. Siapapun yang hendak membuatnya sulit, niscaya akan dikalahkan." [HR. Bukhori]
"Sesungguhnya kamu diutus untuk mempermudah, bukan mempersulit!" [HR. Tirmidzi]
"Mudahkanlah, jangan menyulitkan. Tebarkanlah optimisme, jangan membuat orang jadi pesimis!" [HR. Bukhori]

Itulah beberapa hadist Rosulullah yang bisa kita ambil sebagai mindset pertama kita dalam beragama. Tentu selain yang sudah disebutkan diatas ada banyak sekali hadits lain yang mengandung pengertian seperti itu. Tentu saja, pengertian tersebut beliau simpulkan dari Wahyu Allah SWT. berupa ayat-ayat Al-Qur'an, maupun hadits-hadits Qudsi yang menegaskan bahwa perintah-perintah Allah semuanya adalah ringan dan mudah dikerjakan, tidak mungkin menjadi beban dan menyulitkan bagi siapapun yang melaksanakannya.

Di antara firman-firman Allah SWT.,
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu [QS. Al-Baqoroh (2) : 185]
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya [QS. Al-Baqoroh (2) : 286]
dan Dia tidak menjadikan suatu kesulitan bagimu dalam agama [QS. Al-Hajj (22) : 78]

Selain itu Al-Qur'an juga mengajarkan kita untuk berdo'a,
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir [QS. Al-Baqoroh (2) : 286]

Mindset: Agama itu Mudah


Ketika kita menyimak apa yang disebutkan oleh sumber utama agama Islam (Al-Qur'an dan As-Sunnah) benar-benar hanya kemudahan yang kita terima sebagai seorang muslim. Tapi sayangnya beberapa pakar fiqih di masa lalu terkadang ihtiyath-nya (bersikap hati-hati) terlalu berlebihan. Misalnya membahas masalah yang kurang penting sampai serinci-rincinya, yang begitu justru sering menimbulkan kesempitan dan juga kesulitan dalam praktek atau pengamalannya. Belum lagi ta'ashub (fanatisme) para murid yang hanya membolehkan seseorang pada saat itu untuk mengikuti pendapat dari imam empat saja, yakni imam Syafi'i. Hambali, Hanafi dan juga imam Maliki, yang paling populer masa itu. Bahkan yang lebih fanatiknya hanya memilih pendapat salah satu dari mereka.

Hakikatnya, para imam empat tadi, tidak ada yang pernah, sesekalipun mewajibkan orang lain untuk mengikuti pendapatnya, meski mereka dikenal sebagai orang yang bijak serta luas ilmunya. Tidak hanya itu, mereka bahkan malah melarang siapa pun untuk mengikuti pendapatnya, kecuali jika orang tersebut sudah tahu dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah yang menjadi dasar dari pendapat tersebut. Jika ada pendapat mereka yang bertentangan, wajiblah untuk meninggalkan pendapat tersebut.

Misalnya Abu Hanifah, beliau pernah menyatakan, "Ini yang terbaik dari apa yang bisa kami simpulkan. Tapi bagi siapa saja yang menemukan kesimpulan lain yang lebih baik, maka hendaklah ia mengikutinya." Dia juga pernah menegur Abu Yusuf (muridnya), "Apa engkau mencatat semua yang kuucapkan? Bisa saja hari ini aku punya pendapat tentang sesuatu, kemudian besok aku berpendapat lain. Dan hari berikutnya aku mengubah pendapatku itu!"

Begitu juga dengan Imam Malik, ketika Harun ar-Rasyid berkata, "Biarkan aku sebarkan kitab-kitab yang engkau karang ini ke semua negeri Islam, dan mengharuskan mereka untuk berpegang padanya saja." Maka beliau menjawab, "Tidak wahai Amirul Mukminin. Perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah rahmat Allah bagi kita. Setiap orang mengikuti apa yang sesuai dengan yang mereka yakini dan sesuai dengan dalil yang shohih."

Imam Syafi'i pun mewanti-wanti pada semua muridnya untuk tidak mengikuti pendapatnya yang berdasarkan qiyas (analogi) jika mereka temukan hadist yang bertentangan dengan pendapatnya itu. Kata beliau, "Jika ada hadits shohih, itulah pendirianku/pendapatku (madzhab). Dan buang jauh-jauh pendapatku yang bertentangan dengannya.

Demikian yang bisa disimpulkan dari ucapan para imam, tak seorang pun dari mereka yang memaksakan pendapatnya atas orang lain. Ataupun supaya ucapan dan pendapatnya diikuti sepenuhnya sebagaimana ucapan Nabi SAW.  Yang mereka inginkan hanya berusaha mendekatkan pemahaman umat tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah. Mereka benar-benar menyadari bahwa kesalahan takkan telepas dari dirinya dan kepatuhan mutlak hanya khusus kepada Rosulullah SAW.

Semoga bermanfaat, silahkan bagikan agar lebih banyak orang yang mendapat manfaatnya.
Advertisement

1 komentar:

avatar

Betul banget tuh, makannya jaman sekarang banyak org pada pusing gara2 mikirin agama

Click to comment