Apa Itu Cinta?

Dalam banyak hal, saya lebih suka meragukan sesuatu untuk bisa meyakininya. Mungkin sedikit membingungkan, tapi itulah kenyataan. Hidup memang bukan hanya soal perasaan dan logika, banyak hal dalam hidup ini yang menurut saya paradox.

Semakin pelit, kamu akan semakin miskin. Semakin boros, kamu akan semakin kaya.
Semakin bekerja keras, semakin sedikit hasil yang kamu dapat. Semakin kamu sedikit bekerja, semakin banyak hasilnya.
Semakin dikejar, semakin lari. Semakin cuek, semakin dicari.
Semakin dicari, hilang. Tidak dicari, malah datang.
Itulah paradox.

Apa itu cinta


Bagaimana dengan cinta?
Kalau kamu mau tau apa itu cinta, sebaiknya kamu tau dulu apa yang bukan cinta. Sebab dengan kamu tau apa yang bukan cinta, kamu akan semakin dekat dengan cinta yang sesungguhnya.

Dan ketika kamu tau apa arti cinta yang sesungguhnya, maka kamu akan merasa bahagia karenanya dan takkan pernah kecewa apalagi tersakiti karena cinta.

Taukah kamu kenapa angka perceraian di Indonesia terus meningkat, bahkan negri ini sampai dinobatkan sebagai negara dengan tingkat perceraian tertinggi se-Asia Pasifik? tentu bukan karena ada 7 hari dalam sepekan, tapi karena masih banyak yang salah kaprah memahami cinta. Bagaimana tidak, sekarang anak SD saja sudah sering galau karena cinta monyetnya. Belum lagi anak SMP yang tawuran karena merebut pacar teman. Ditambah lagi anak SMA yang pada hamil duluan. Kalaupun ada pasangan yang berhasil melewati semua itu dan akhirnya menikah, kehidupan rumah tangganya pun akan penuh dengan kesalahan dan berujung pada perceraian dan kehancuran. Akhirnya anak lah yang menjadi korbannya. Benar-benar miris bukan? Lalu dengan alasan apa kita mengharap kebahagiaan dalam kehidupan percintaan kita, sedangkan kita saja masih salah dalam mendefinisikan cinta.

Cinta itu bukan pengorbanan!

Kalau kamu menganggap berkorban adalah wujud dari cinta, kamu keliru dan kamu hanya akan terjebak dalam kehidupan yang penuh dengan pengorbanan bukan kebahagiaan. Padahal bukan berarti dengan kamu banyak berkorban, dia akan semakin cinta. Tidak ! Justru malah dia akan semakin memanfaatkanmu dalam hubungan percintaanmu. Jadi selama masih ada yang berkorban dalam hubunganmu, itu bukan cinta. Apalagi jika kamu sudah memberikan segalanya, termasuk seks. Kamu salah besar!

Cinta itu bukan seks!

Itu adalah dua hal yang sangat berbeda. Orang yang melakukan seks belum tentu saling mencintai. Tak perlu saya perjelas tentang siapa mereka, saya percaya kamu lebih paham masalah itu. Dan hanya wanita bodoh yang mau ditipu dengan kata-kata, “Jika kamu cinta aku, kamu harus mau seks (berhubungan biologis) denganku, jika tidak berarti kamu tidak cinta aku”. Bullshit! Itu cuma birahi yang mengatas-namakan cinta (maaf untuk yang laki-laki, rahasiamu saya bongkar disini). Maka kalau kamu sampai memberikan keperawananmu pada laki-laki seperti itu, jangan harap kamu bisa merasakan kebahagiaan dalam kehidupan percintaanmu. Mungkin kamu akan mengelak dan menjawab, “Cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Setelah dia menikahiku, aku akan belajar untuk mencintainya”.

No ! That’s wrong !

Cinta itu bukan sesuatu yang bisa bertumbuh.

Cinta itu anugrah, pemberian dari Allah. Kamu takkan bisa belajar untuk mencintai seseorang. Misalnya dalam kasus perjodohan (dijodohin oleh orang tua), sedangkan kamu tidak mencintainya. Meskipun kamu bilang akan belajar mencintainya, dan akhirnya kamu mau menikah dengannya. Itu bukan cinta. Itu kasihan atau rasa terbiasa pada pasangan, kamu hanya akan kasihan kepadanya atau kepada orang tuamu saja. Dan cinta yang dilandasi rasa kasihan akan terasa kering, karena yang tumbuh hanyalah rasa terbiasa atau kasihan diantara keduanya yang kemudian membuat mereka merasa saling terikat. Namun sayangnya,

Cinta itu bukan sesuatu yang terikat.

Ini yang banyak sekali terjadi dalam kehidupan percintaan dan sering menjadi penyebab rusaknya hubungan. Merasa cemburu kepada pasangan, possesive, merasa memiliki, status (pacaran, pernikahan, dll). Semua itu bukan cinta. Cinta itu bukan sesuatu yang terikat.

Kita sering banget dengar ucapan, “Aku cemburu karena aku cinta kamu” atau “Aku nyuruh kamu jangan begini karena aku cinta” atau yang lebih parah lagi, “Kalo kamu cinta, nikahin aku”. Semua bentuk dari kata-kata itu bukan cinta. Itu adalah Ego untuk memiliki.

Itu hanya rasa “memaksakan keinginan” atas pasangannya, itu bukan cinta. Jadi kamu jangan sampai terjebak dalam diksi-diksi yang mengatas-namakan cinta, termasuk kata-kata lain yang merujuk pada keterikatan. Misal, kamu harus jadi pacarku atau sejenisnya. Itu hanya bentuk dari egois, yang ingin menujukan bahwa “You’re Mine”. Kamu itu miliku. Kalau kamu tidak mau menuruti keinginanku berarti kamu tidak cinta.

Itu adalah kesalah kaprahan cinta yang paling beracun saat ini. Dengan disebarkan virus-virus ego untuk memiliki yang mengatas-namakan cinta, seperti “Kalau cinta, nikahin aku”, atau dengan bahasa religi “Halalin aku, kalo kamu cinta” akhirnya melahirkan kehidupan cinta yang salah atau bahakan rusak, hancur. Misalnya baru menikah satu bulan sudah cerai, sekalipun orang yang tau agama tidak bisa menjamin bahwa ia menikah benar-benar karena cinta. Seandainya, sebulan, setahun bahkan sepuluh tahunpun mereka tetap bersama, itu bukan karena cinta. Sekali lagi itu hanya ego untuk memiliki dan konsekuensinya kehidupan mereka hanya dipenuhi oleh ego masing-masing yang mengatas-namakan cinta. Akhirnya  yang terjadi hanya sebatas menjalankan fungsinya masing-masing, “aku sebagai suami, fungsinya ini dan kamu sebagai istri fungsinya itu”. Cuma itu, tanpa ada rasa cinta didalamnya.

Lalu, jika semua yang tadi disebutkan itu bukan cinta, cinta itu apa?

Perlu kamu ingat, bahwa kualitas kehidupan percintaanmu itu tergantung bagaimana kamu mendefinisikannya.

Seperti saya sebutkan diawal tadi, bahwa meskipun definisi ini akan terus berkembang, namun paling tidak dengan kita mengetahui hal-hal yang bukan cinta, kita akan semakin dekat dengan arti cinta yang sesungguhnya.

Jadi, cinta itu bukan seks, cinta itu bukan pengorbanan, cinta itu bukan sesuatu yang tumbuh dan cinta bukan sesuatu yang terikat.

Cinta adalah sebuah anugrah dari Allah kepada manusia (fitrah) yang datang secara tiba-tiba (tidak bisa dibuat atau dengan kata lain murni pemberian) dan ia akan membuat orang yang jatuh cinta merasa ada kecocokan jiwa (saling terbuka satu sama lain, saat kamu bersama pasanganmu seoalah kamu sedang bersama dirimu sendiri atau sama halnya dengan kamu sedang melihat dirimu sendiri dalam cermin, tak ada yang perlu kamu sembunyikan, apa adanya) sehingga kamu merasa apa yang kamu berikan kepadanya adalah sebuah kebahagiaan bagimu, dengan begitu kamu tak merasakan pengorbanan dan tak mengharap imbalan dari apapun yang telah kamu lakukan untuk orang yang kamu cintai karena hakikatnya kamu melakukan itu untuk dirimu sendiri.

Kalau sudah begitu, semua hal yang bukan cinta pasti akan ikut hadir dalam kehidupan percintaanmu. Status bukan lagi sebagai tuntutan tapi pemberian yang tulus. Kamu tidak akan pernah lagi merasakan hal-hal yang membuat hati tersakiti, seperti cemburu, possesive dlsb, yang ada hanyalah kepercayaan dan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan cinta bersamanya.

Mungkin kedengarannya sedikit gila, tapi ini nyata! Jika kamu benar-benar mengerti hakikatnya cinta, dan bisa mengaplikasikannya dalam kehidupanmu, insyaAllah kehidupanmu akan berubah menjadi kehidupan yang penuh rasa syukur dan kebahagiaan.

Ilmu ini saya sejajarkan dengan kerangka berfikir tasawuf, yakni untuk bisa mencapai kecintaan hamba kepada Tuhannya. Ketika seseorang bisa mencapai Sufi, dia takkan peduli dengan apapun termasuk balasan pahala bahkan mau dimasukkan kedalam Syurga atau Neraka. Satu-satunya yang ia pedulikan hanyalah kenikmatan (kebahagiaan) akan cintanya kepada Allah. Semua ibadah yang ia lakukan takkan terasa menjadi pengorbanan (perjuangan), semuanya hanya akan terjadi seperti diluar kesadarannya.

Begitulah cinta yang sesungguhnya, tak terbatas ruang dan waktu, tak terbatas rasa dan logika. Karena cinta adalah cinta. 
Advertisement

Click to comment