Cinta Sejarah Pondok Pesantren Al-Kamal

advertise here
Spesial Edisi Hari Ssantri 2017

4 tahun yang lalu...
Hari itu, saya masih seger-segernya mengenakan seragam putih abu-abu alias baru masuk ke MA Plus Nururrohmah. Meskipun saya sudah berada di tempat itu sejak 3 tahun sebelumnya (di MTs Plus Nururrohmah), namun rasa baru dan semangat baru masih saja mengiringi setiap langkah dalam menuntut ilmu di sekolah yang berada dibawah naungan Pondok Pesantren Al-Kamal ini.


Kalau tidak salah ingat, semua ini bermula ketika ada kabar bahwa sekolah kita akan mendapatkan tambahan santri baru, pindahan dari MA Wathoniyah Islamiyah Kebarongan. Benar saja, 5 Februari 2013 seorang santriwati datang menemui kepala sekolah kami Ust. Azam Syukur Rahmatullah di ruangannya. Rasa penasaran dengan santri baru ini pun muncul dari diri saya, dan pucuk dicinta ulampun tiba,
tok...tok...tok, ada kak Rizky Probo? tanya seorang anak MTs dari depan pintu kelas kami.
Saya yang kebetulan duduk di samping pintu kelas langsung menjawabnya,
Iya.. saya dek. Ada apa? tanya saya kembali pada anak itu.
Kakak di suruh menggantikan ustadz Azam ngajar di kelas 8A, Ustadz Azam nya lagi ada tamu.
Saya yang waktu itu terlanjur kenal dekat dengan beliau merasa senang dan segera bergegas untuk menuju ke Gedung sebelah.

Sekolah kami memang berada dalam satu komplek (MTs, MA dan SMK Plus Nururrohmah), dan sudah menjadi hal yang biasa didalam lingkungan pesantren, ketika ustadz berhalangan hadir maka santri yang sudah mumpuni lah yang menggantikannya.

Sepertinya hari itu, keberuntungan sedang berpihak kepada saya. Karena ternyata kelas 8A yang dijadikan kelas favorit itu berada tak jauh dari ruang (lama) kepsek kami. Santri "nakal" seperti saya pun akhirnya memanfaatkan kesempatan itu. Dengan berjalan kedemik-kedemik, pelan-pelan sambil melirik ke dalam ruang kepala sekolah dengan sedikit membungkukan badan (santri ta'dzim).

Meski tak jelas, namun saya melihat seorang santriwati baru itu. Rasa penasaran pun semakin menjadi-jadi dan sangat mengganggu saya ketika menyampaikan materi di kelas MTs ini. Usai menyampaikan pelajaran dan sedikit nge-gossip dengan adik-adik MTs, saya langsung kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran yang saya tinggalkan tadi. Namun ternyata setelah sampai di kelas, jam pelajaran sudah berganti dan ustadz selanjutnya belum masuk kelas. Kelas pun sedikit ramai.

Masih ngos-ngosan saat itu, tiba-tiba Ustadz Azam masuk ke kelas kami,
Mas... mas ( menenangkan kelas, lalu memandang ke arah saya), santri MA yang baru itu emang cante (pelafalan kata cantik dengan logat bandek/jawa timuran) namanya Berlian. Cocok tuh sama Rizky Probo
Mak tratap, kaget bukan main saya mendengarnya. Malu bukan kepalang sekaligus ke GR-an di depan teman-teman satu kelas. Itu benar-benar menjadi moment yang tak terlupakan sampai kapanpun. Dan Qodarullah, apa yang dikatakan oleh beliau menjadi kenyataan.

Walupun ketika masa-masa nyantri, kami jarang sekali bertemu dan hanya kenal sebatas teman sekolah, bahkan sempat benci karena sikap dan karakter satu sama lain. Alhamdulillah, entah darimana mulanya saya akhirnya menikah dengan Berlian. Al-Kamal adalah temapat dimana Allah mempertemukan kami, insyaAllah sampai kapanpun Al-Kamal ada dalam jiwa kami.


***

Sejarah Pondok Pesantren Al-Kamal

6 tahun sudah saya menimba ilmu di Pondok Pesantren ini, sejak MTs hingga akhirnya lulus menjadi alumni MA Plus Nururrohmah. Sedikit banyak saya tahu tentang almamater saya yang berdiri (resmi) tahun 1996 di Desa Tambaksari, Kuwarasan, Kebumen.

Rizky & Berlian Dalam Sejarah Pondok Pesantren Al-Kamal (Edisi Hari Santri Nasional)
doc. buku sejarah pondok pesantren Al-Kamal


Meskipun pada tahun 1994 pimpinan pondok KH. Hayat Ihsan bersama H. Bambang Soetadji sudah mulai merintis, dengan mendirikan TPA dan membangun gedung pertamanya "Mubtadi'ah" (Mubtada = yang mengawali). Namun baru pada tahun 1996 nama Pondok Pesantren Al-Kamal dikenal oleh masyarakat sekitar bersamaan dengan berdirinya MTs Plus Nururrohmah.

IKARIJ (Ikatan Remaja Islam Jaraksari) adalah cikal bakal dari TPA yang didirikan oleh KH. Hayat Ihsan. Awalnya kegiataan ke-santri-an itu hanya dilakukan selepas Maghrib saja, selama 2 tahun (1987-1989) dengan memanfaatkan rumah tua milik ayahanda dari KH. Hayat Ihsan. Kegiatan ini berakhir karena kesibukan beliau pimpinan pondok yang juga mengurus percetakan "PUTRA" di Gombong dan keterbatasan tenaga pengajar waktu itu.

Meski berkali-kali pasang surut dan berbagai ujian mendera, semangat yang membara dalam hati Kyai Hayat Ihsan (muda) untuk melanjutkan cita-cita mulya ayahanda KH. Ihsan Ismail dan Ibunda Hj. Siti Sofiyah tak pernah pudar.

Pada tahun 1996 lokasi yang tadinya hanya sebagai Taman Pendidikan Al-Qur'an, berkembang menjadi Madrasah Tsanawiyah (MTs) dengan dibangunnya gedung yang diberi nama "Arofah" (sebab kala itu Kyai Sa'ad, Ibu Hj. Siti Nururrohmah dan Ananda Muhammad Yahya Fuad beserta istri, Ibu Lilis Nuryani sedang menunaikan ibadah haji yang didalamnya ada kegiatan Wukuf di padang 'Arafah).

Setelah didirikan secara resmi Madrasah Tsanawiyah Plus "Nururrohmah" pada tahun perdanya mendapat murid sebanyak 76 anak. Nama Pondok Pesantren ini memang belum dicantumkan pada saat itu, karena masyarakat sekitar pada umumnya mengira bahwa pondok itu hanya diajari ngaji (tidak mendapat ijazah) sehingga ditakutkan nanti minim pula yang mendaftar.

Adapun nama Pondok Pesantren Al-Kamal dikibarkan seiring dengan berkembangnya MTs Plus Nururrohmah, ternyata ada anak yang berminat untuk mondok yang kala itu berjumlah 15 anak (9 laki-laki dan 6 perempuan). Awalnya mereka tinggal bersama Pimpinan KH. Hayat Ihsan di rumah beliau, karena pada saat itu belum memiliki Asrama.

Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun santri MTs Plus Nururrohmah bertambah dan bertambah pula yang mondok. Untuk mengimbangi jumlah santri, pada tahun 1997 dibangunlah gedung lagi yang berada di timur gedung Mubtadi'ah yang diberi nama "Gedung As'adiyah". Gedung ini adalah gedung yang terakhir dibangun (wakaf) oleh Kyai Sa'ad sebelum beliau meninggal dunia, sehingga untuk mengenang jasa beliau gedung ini dinamai As'adiyah.

Perkembangan Pondok Pesantren Al-Kamal semakin "memaksa" para pendiri untuk segera membangun gedung lagi untuk Asrama para santri yang mondok, dikarenakan rumah Kyai Hayat Ihsan sudah tidak mampu menampung banyaknya santri yang mondok. Oleh sebab itu maka pada tahun 1998, didirikan Gedung "Ihsaniyah". Nama Ihsaniyah sendiri diambil dari nama ayahanda KH. Hayat Ihsan, yakni KH. Ihsan Ismail. Sebab gedung tersebut dibangun diatas pondasi rumah tua yang dulu ditempati oleh beliau. Gedung tersebut dimanfaatkan untuk tempat tinggal para santriwati yang mondok di Pondok Pesantren Al-Kamal (periode pertama).

Seiring berkembangnya PP. Al-Kamal, pada tahun yang sama dibangunlah gedung "Al-Azhar" lantai 1 dan pada tahun 1999 dilanjutkan pembangunan lantai 2-nya. Lokal demi lokal dibangun di atas tanah yang tadinya hanya blumbang-blumbang. Semakin bartambahnya akan kebutuhan santri untuk mengenyam pendidikan, akhirnya pada tahun 2002 PP. Al-Kamal mengepakkan sayapnya dengan mendirikan SMK Plus Nururrohmah. Meskipun awalnya ide untuk mendirikan SMK ini banyak dikritik orang, namun SMK sukses mendapatkan siswa perdana sebanyak 42 siswa. PP. Al-Kamal semakin jaya. 

Pada tahun yang sama dengan berdirinya SMK Plus Nururrohmah, Pondok Pesantren kami ini kembali membangun gedung untuk Asrama Putri yang terletak di belakang Gedung Ihsaniyah.

Berkembangnya PP. Al-Kamal ini tidak terlepas dari usaha luar biasa yang dilakukan oleh para pendiri dan dewan asatidz kala itu. Dengan memohon kepada Allah, pada tahun 2004 akhirnya para dewan asatidz mendapat "udara segar" yakni dengan dibangunnya gedung baru untuk para guru yang sudah ikhlas berjuang di Pondok Pesantren Al-Kamal. Mungkin sepanjang sejarah, ini adalah gedung termegah yang pernah dibangun PP. Al-Kamal sampai saat ini. Gedung ini terletak di tepi jalan raya Gombong-Karangbolong dengan kontruksi bangunan yang kuat, 2 lantai dan menghabiskan dana lebih dari 400 juta yang mana sebagian besar dana itu berasal dari beliau Bapak Ir. H. Yahya Fuad, SE putra dari Ibu Hj. Siti Nururrohmah. Karena begitu banyaknya nikmat yang Allah berikan, sehingga gedung ini diberi nama Gedung "Al-Kautsar" (nikmat yang banyak).

Lembaga demi lembaga pun akhirnnya berdiri dibawah naungan PP. Al-Kamal. Pada tahun 2007, pesantren kholaf (modern) ini kembali menambah lembaga pendidikannya yakni MA Plus Nururrohmah. Inilah almamater tercintaku.

***

MA Plus Nururrohmah, Reborn!

Diawali berdirinya Gedung Al-Ijaz yang berseberangan denga Gedung Al-Azhar pada tahun 2007. PP. Al-Kamal mencoba untuk mengibarkan bendera Madrasah Aliyah lagi. Mengapa saya katakan "mencoba lagi"?

Benar sekali ! Sebenarnya dulu pada tahun 2001, PP. Al-Kamal sudah pernah mencoba membuka pendidikan MA Plus Nururrohmah, namun karena dianggap kurang sukses karena hanya mendapat 2 siswa sehingga pada tahun berikutnya dibuka SMK Plus Nururrohmah.

Meski begitu, rasa optimis untuk mendirikan MA tak pernah padam. Sambil menunggu calon pimpinan muda yang akan membangun dan membesarkan MA selesai kuliah S2-nya, di tahun 2007 inilah PP. Al-Kamal memberanikan diri. Walaupun yang menjadi kepala sekolah belum selesai sekolah kuliah. Beliau adalah Ust. Azam Syukur Rahmatullah, putra KH. Hayat Ihsan. 

Alhamdulillah atas Kuasa Allah, perkembangan Madrasah Aliyah Plus Nururrohmah dalam kurun waktu 8 tahun terbilang sangat baik. Sebagai bukti, di tengah-tengah sekolah-sekolah besar, MA Plus Nururrohmah tetap mampu mengeksiskan diri. Dari yang awalnya hanya mendapat 40 santri, saat ini pendaftar mencapai 90an lebih (Update per 2014).

Pada tahun 2008, PP. Al-Kamal mencoba untuk lebih memperhatikan santrinya yakni dengan membangun Asrama untuk santri putra. Gedung yang diberi nama "Darul Faizin" ini menempati tanah yang dulunya difungsikan sebagai lapangan olahraga.

bersambung...

Click to comment