Ku Pinang Engkau Dengan Ayat Cinta, Surah Ar-Rahman

advertise here
Ketika akad telah terucap
Maka diri ini akan seutuhnya menjadi milik-Nya
Menjalin janji yang takan putus oleh apapun, kecuali kematian
Pernikahan mengajarkan kita tentang kewajiban bersama,
Bersama dalam menerima keadaan apapun dengan bahagia
Susah senang dihadapi bersama

Memulai langkah hidup yang penuh berkah
Yakinlah, bahwa dua do'a akan membawamu dalam kebahagiaan
Seandainya istri diibaratkan anak kecil
Maka suamilah yang akan menjadi tempat bermanjanya

***

Sebait puisi cinta

Entah dari mana mulanya, saya yang masih berstatus mahasiswa aktif di Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga Yogyakarta ini berani mengambil langkah untuk menikahi seorang perempuan yang sudah bekerja di sebuah sekolah dasar dalam pondok pesantren yang sekaligus ia juga adalah mahasiswi dari perguruan tinggi di daerahnya. Namun ketika akad telah terucap dan hafalan ayat cinta (surah Ar-Rahman), saya sadar betul bahwa saat ini saya sudah sah menjadi seorang suami yang akan diberi segudang tanggung jawab dunia akhirat. Mendapat amanah yang bukan sembarang amanah, yang jika saya sampai lalai maka tamat sudah riwayat hidup ini. #ngeri

Begitulah awalnya saya mengira makna dari sebuah pernikahan, namun setelah kita jalani bersama, Alhamdulillah ndak sebegitu menyeramkannya cerita kehidupan kami. Toh, buktinya masih bisa hepi-hepi sana sini. Meski tidak dipungkiri, terkadang ombak dahsyat menghantam bahtera kami, bahkan batu karang pernah hampir merusaknya. Namun, kuasa Allah jauh lebih dahsyat dari itu semua.

Kita tahu bahwa setiap rumah tangga pasti akan menemui yang namanya permasalahan. Entah itu yang sudah lama apalagi yang masih baru. Tapi, yakinlah bahwa jika kita memulainya dengan baik-baik makan Allah lah yang akan menolong kita. Baik itu masalah materi, ekonomi ataupun masalah keturunan. Itulah yang menjadi modal saya membangun rumah tangga ini.

***
Happy Wedding Rizky & Berlian...

Saat saya mengambil keputusan untuk menikah adalah saat dimana semua orang dari keluarga saya dan juga istri saya berkumpul. Kami tengah melaksanakan khitbah. Waktu itu saya ingat betul kejadiannya, tatkala Ayah dari istri saya mengatakan "siap" untuk menikahkan putrinya saat itu juga, kemudian saya menolak sekaligus memohon waktu. Awalnya saya menentukan tanggal pernikahan pada tanggal 1 Januari 2017, pertimbangan saya tidak lain dan tidak bukan karena pada saat itulah baik saudara ataupun kerabat dan sahabat yang merantau sedang pulang sehingga bisa menyaksikan prosesi pernikahan kami. Namun karena ada beberapa hal dan beberapa tokoh penting tidak dapat hadir, akhirnya tanggal 7 Januari 2017 lah yang ditetapkan pada saat selesai khitbah, sebagai tanggal akad sekaligus resepsi pernikahan kami.

Ketika hari itu tiba, saya dengan baju pengantin putih beserta kopyah untuk menambah wibawa keserasian, karena istri berhijab diiring menuju masjid Al-Azhar, Majenang. Saat itu sahabat-sahabat semasa di pesantren datang, begitupun teman-teman kuliah dari Jogja datang untuk menyaksikan akad dan juga pelafalan surah Ar-Rahman sebagai mahar pernikahan kami.

Dari pelataran masjid kami disambut oleh beberapa tokoh masyarakat, diantaranya adalah beliau Pimpinan PCM Muhammadiyah Majennag dan DR. Azam Syukur Rachmatullah. Suasana haru mulai terasa ketika saya mulai melantunkan ayat demi ayat dari Surah Ar-Rahman. Tak terasa air mata pun membasahi saya dan mungkin para saksi. Saya tak pernah membayangkan bagaimana rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu saat itu.

Alhamdulillah, karena kuasa Allah, saya dapat menyelesaikan semuanya dengan lancar dan tanpa se harokat-pun saya lewatkan. Para saksi, baik itu dari pihak keluarga maupun teman-teman yang saat itu menyimak pun ikut bersyukur. Setelah selesai melafadz-kan ayat-ayat cinta itu saya pun sejenak menarik nafas untuk menerima akad nikah dari ayah istri saya. Ini adalah moment yang lebih sakral daripada saat saya melantunkan hafalan saya. Waktu itu saya memilih untuk menggunakan bahasa Arab, bukan karena saya pernah di pesantren selama 6 tahun, tapi akad menggunakan bahasa Arab itu jauh lebih pendek, dan yang terpenting adalah niat dan tahu apa yang kita katakan.

Meskipun saat itu jantung serasa mau keluar dari dada, akhirnya akad-pun berjalan lancar, MasyaAllah... Bahagia yang amat sangat saya rasakan saat itu. Terlebih tatkala istri saya mencium tangan saya. Serasa dunia ini rubahnya menjadi syurga, dimana sesuatu yang diharamkan sebelumnya kini menjadi ibadah yang amat besar pahalanya. Subhanallah

Ku Pinang Engkau Dengan Ayat Cinta, Surah Ar-Rahman

Hari itu benar-benar menjadi hari yang sangat bersejarah sepanjang hidup saya. Banyak sekali pengalaman dan rasa yang tak bisa saya ungkapkan lewat tulisan ini. Tiap detik jarum jam menjadi saksi keindahan cinta yang halal. Meskipun tak dapat dipungkiri, rasa letih dan lapar karena tak bisa menikmati hidangan, saking banyaknya tamu. Maka dari itu bagi kamu yang mau nikah perlu tahu Kesalahan-kesalahan saat resepsi pernikahan sehingga kamu bisa menghindari dan ber-antisipasi.

Menikah adalah ibadah, tak ada alasan untuk menunda atau menghalangi pernikahan, itulah prinsip. Ketika kita sudah yakin akan janji-janji Nya, maka ikhtiar dan ber tawakkal-lah, insyaAllah semua akan indah pada waktunya.

Semoga cerita singkat ini bisa bermanfaat...

1 komentar:

Click to comment