Khitbah dan Ke-Salah Kaprah-an Masyarakat Muslim Indonesia

advertise here
Senin, 12 Desember 2016 bertepatan dengan 12 Rabi'ul Awal atau Maulid Nabi Muhammad SAW. Dua hari setelah saya pulang dari Jakarta, di temani Pimpinan di Pondok Pesantren Al-Kamal (tempat dulu saya dan istri saya belajar) saya melangkahkan kaki untuk mencoba melewati tahap yang lebih serius dengan calon istri saya, Khitbah.

Khitbah dan Ke-Salah Kaprah-an Masyarakat Muslim Indonesia


Khitbah dan Tunangan

Mendengar kata khitbah, ada dua kemungkinan : Pertama, sampeyan tidak tahu (bingung), dan kedua sampeyan tahu tapi dengan istilah yang lebih populer, Tunangan.
Nah, yuk kita bicarakan sebentar masalah khitbah dan tunangan. Apakah sama khitbah dengan tunangan, dan kesalah kaprahan sikap orang tua ketika anaknya sudah dikhitbah. Ndilalah, saya kok ngalami yang saya sebut terakhir itu. Sedikit cerita ya, pas saya sudah dalam status meng-khitbah (calon istri : makhtubah), saya ada acara lomba hafalan al-Qur'an di Jakarta Timur tepatnya di Masjid At-Tiin.

Lomba di Masjid At-Tiin


Eh, kebetulan calon istri saya waktu itu juga mengikuti lomba yang sama. Kemudian dengan polos dan tanpa dosa,  saya datang ke rumah calon mertua saya dan minta izin untuk berangkat ke Jakarta bersama. Alhamdulillah, saya diizinkan oleh ibu calon istri saya. Meskipun pada akhirnya saya tidak mendapat izin dari ayahnya. Tapi dari cerita itu, yang masih terngiang di kepala saya adalah kata-kata ibu mertua saya waktu itu, "Yo, ndak papa.. kan sudah dikhitbah, Berlian separuhnya sudah menjadi hak nak Rizky". (seneng tho pikirmu)

Ini kekeliruan yang banyak terjadi di kalangan emak-emak kita dan membahayakan anaknya sendiri. Lha gimana tidak? Laki-laki kok dikasih kesempatan begitu, yo bisa "goal". Jangankan dikasih kesempatan begitu, wong yang ndak dikasih kesempatan sama orang tuanya bisa ke "goal"-an kok, betul?

Mangkanya saya katakan "Khitbah itu Tantangan". Jika memang kuat menghadapi bisa selamat dan menang, tapi jika tidak yo sampeyan pasti sudah mudheng lah. Ada yang baru nikah 5 bulan, tapi sudah babaran. Nah, mungkin sikap permisif seperti itu tidak hanya dialami saya tok, untuk sama-sama menjaga seyogyanya yo sebagai anak yang peduli dengan nasib orang tua (sebab orang tua/ayah yang bertanggung jawab kelak atas anak perempuannya) lebih baik justru kita itu semakin menjaga, bila perlu jadikan jauhnya jarak untuk membentengi diri (nafsu) kita.

***
Islam itu Mudah

Masih ngobrolin tentang khitbah, setelah yakin dan mantap serta orang tua saya pun sudah pernah bertemu langsung dengan calon menantunya, Alhamdulillah, saya diizinkan untuk melamar putri dari seorang tokoh yang cukup terkenal dan disegani di masyarakat Majenang.

Kami berangkat dengan dua mobil menuju rumah calon istri saya. Sesampainya disana, dengan sedikit basa-basi akhirnya tersampaikan juga maksud dan tujuan kedatangan kami sekeluarga. Saya mulai ndredeg tak karuan menunggu jawaban dari pihak keluarga calon istri saya yang sama-sama basa-basi dulu.

Mak tratap saya mendengar jawaban dari Ayahnya, 
"Kami 100% menerima lamaran dari nak Rizky, Mbok mau dinikahkan hari ini juga saya siap".
Saya jadi tambah ndredeg setelah mendengar jawaban itu, yo seneng tapi yo bingung. Saya mbatin, "waduh, ki nek mbojo saiki aku durung ono persiapan e, mbok semaput pas lagi ijab malah bubar sak kabehane", sontak saya jawab, 
"Wah nek sak niki dereng wantun lah pak, kulo dereng nyiapaken nopo-nopo, mbok bilih angsal nggih wulan ngajeng mawon"
Setelah berunding sejenak, akhirnya saya diminta menentukan tanggal pernikahan. Dengan beberapa pertimbangan yang memang sudah saya antisipasi sebelumnya, saya pun memilih tanggal 7 Januari 2017 atau lebih tepatnya satu bulan yang akan datang. Usai penentuan tanggal dan semua pihak sepakat, kami berdo'a bersama sebelum akhirnya dipersilahkan menyantap hidangan yang telah disiapkan oleh tuan rumah.

Khitbah dan Ke-Salah Kaprah-an Masyarakat Muslim Indonesia

Serasa mimpi, saya yang masih muda belia dan ganteng rupawan ini berhasil meminang seorang gadis cantik jelita yang sekarang menjadi istri saya. Puji Tuhan yang benar-benar telah memudahkan semuanya. Karena memang sejak awal sudah saya pasrahkan kepada Allah SWT. Bahkan jika lamaran saya ditolak sekalipun saya sudah siap, eh Alhamdulillah Allah berikan yang terbaik untuk saya. Namun, belum bisa santai dan leyeh-leyeh karena setelah khitbah ini sudah menanti puncak dari kegalauan yaitu pernikahan. Wah, saya sebagai calon kepala rumah tangga mesti segera bergegas untuk menyiapkan segala-galanya. Sebab, apa saja yang dibutuhkan menuju pernikahan bukan sesuatu yang mudah.

1 komentar:

Click to comment